Bill Drayton:
Pelopor Wirausaha Sosial Dunia
Bill Drayton muda, dalam usianya yang ke-20 tahun, mengendarai volkswagen merah-putihnya dari Munich ke India untuk menyaksikan suatu peristiwa penting. Pada waktu itu, tahun 1963, di India, seorang bernama Vinoba Bhave mendapatkan hadiah tanah seluas tujuh juta hektare dari masyarakat. Drayton pun datang ke India khusus untuk menyaksikan acara serah terima hadiah itu.
Vinoba Bhave rupanya telah berkeliling India, membujuk para individu dan masyarakat desa agar menghadiahinya tanah secara legal. Bhave kemudian mendistribusikan tanah seluas tujuh juta hektare itu secara merata dan membantu mereka yang tidak memiliki lahan.
Pendistribusian tanah berlangsung damai, dan Drayton melihat tindakan Vinoba sebagai langkah inovatif memutus lingkaran tali kemiskinan yang menjerat masyarakat India saat itu.
Pada waktu itu, Bill Drayton menyaksikan sebuah gagasan sederhana yang mampu memberi dampak sosial yang luas. Bagi Drayton, Vinoba merupakan sosok pemimpin yang mampu mengubah daya sebuah gagasan menjadi kenyataan.
Inilah model perubahan yang disebut Drayton sebagai social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. Itu adalah istilah untuk mendeskripsikan aktivitas individu yang mengombinasikan metode pragmatis berorientasi hasil dari seorang usahawan bisnis, dengan tujuan seorang reformis sosial.
Pelopor Wirausaha
Bill Drayton sendiri menunjukkan kemampuannya sebagai wirausaha sosial sejak usia dini. Di sekolah dasarnya di New York dia memprakarsai pembuatan koran sekolah dan mampu mendistribusikannya ke sekolah-sekolah lain. Saat duduk di bangku SMU, dia mendirikan Asia Society dan menjadikannya sebagai organisasi siswa terbesar.
Saat kuliah di Yale Law School ia meluncurkan Yale Legislative Services, yang setelah dia lulus mampu melibatkan sepertiga anggota OSIS membantu para legislator merancang dan mendrafkan peraturan pemerintah.
Empat tahun saat bergabung dengan Kantor Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat masa pemerintahan Clinton, mendorong Drayton ber-“intrapreneur” dengan sederetan inovasi dan reformasi di bidang administrasi pengelolaan lingkungan.
Ia terlibat aktif mulai dari pengenalan perdagangan gas emisi sampai membangun asosiasi manajer profesional bidang lingkungan, yang berhasil membuat banyak pihak menyadari kebijakan pemerintah yang merusak.
Drayton kemudian juga mendirikan dan memimpin Environmental Safety yang membantu masyarakat mengembangkan dan menyebarluaskan cara-cara penerapan undang-undang lingkungan yang lebih baik.
Dedikasi dan kepeduliannya terhadap perubahan sosial pun telah diakui dunia berkontribusi banyak pada makin berkembangnya sektor masyarakat sipil dunia.
Sejak awal 60-an, penjelajahan Bill Drayton muda ke Asia, khususnya India, telah mendorongnya mengadakan solusi atas masalah kesejahteraan dunia yang tidak merata.
Pencariannya terhadap cara-cara inovatif untuk membuat perubahan, walau dengan sumber daya terbatas, mendorongnya memprakarsai pendekatan kewirausahaan sosial dan melahirkan lembaga bernama Ashoka.
Ashoka mencita-citakan dunia, di mana setiap orang sebagai pembaharu. Untuk itu misinya adalah memperkuat sektor masyarakat sipil melalui pendekatan kewirausahaan sosial.
Ashoka meyakini sektor sosial yang produktif, berjiwa, dan berdaya saing mampu menciptakan lingkungan, di mana setiap orang bisa menjadi pembawa perubahan.
Pilar penting yang dibutuhkan masyarakat adalah adanya solusi inovatif yang dihasilkan para wirausaha sosial. Untuk itu Ashoka menggalang dukungan masyarakat untuk menanamkan investasi sosialnya bagi identifikasi, seleksi, dan dukungan kepada wirausaha sosial, melalui solusi inovatif dan organisasinya.
Investasi ini efektif membuat para wirausaha sosial secara purnawaktu dapat menyebarkan dampak sosial bagi jutaan masyarakat Indonesia dan dunia.
Di samping itu, dibutuhkan pula inovasi infrastruktur bidang keuangan, sumber daya, dan kemitraan lintas sektor, sehingga para wirausaha sosial mampu mempercepat proses perubahan yang dibutuhkan masyarakat.
Ashoka menjalin kerja sama dengan berbagai pihak bagi pemenuhan kebutuhan infrastruktur di sektor sosial. Kini lebih dari 1.700 wirausaha sosial atau Fellow Ashoka di 65 negara di dunia bergabung dalam jaringan asosiasi global Ashoka.
Lebih dari 100 di antaranya berada di Indonesia, dan terus mendedikasikan diri bagi tumbuhnya lebih banyak lagi pembawa perubahan tingkat lokal.
Sebagaimana dikutip dari pidato mantan Presiden Clinton baru-baru ini, “…Saya harap berumur cukup panjang untuk melihat Bill Drayton memenangkan Hadiah Nobel. Saya mengenalnya sepanjang hidup saya. …Saya pikir, di dunia ini kepada orang-orang semacam inilah kita harus hidup berharap.”
Melalui lembaga global Ashoka: Pembaharu bagi Masyarakat yang berbasis di Arlington, Virginia, Drayton berkeinginan menemukan pemimpin-pemimpin pembawa perubahan di dunia, memberi dukungan, dan menyediakan “social venture capital” secukupnya. Ia juga mengamati perkembangan kelembagaaan dan peningkatan standar hidup mereka.
Di Indonesia Ashoka hadir lebih dari 20 tahun dan telah mendukung lebih dari 120 wirausaha sosial.
Lama Drayton mengamati pemerintah yang bisa tidak efisien, sektor swasta yang termotivasi oleh profit, dan sektor nirlaba yang siap memberi perubahan. Sektor masyarakat madani ini, seperti yang diistilahkan Drayton, berkembang cepat.
Di Amerika, 70 persen LSM yang terdaftar berusia di bawah 30 tahun. Di Indonesia sendiri, pada awal era 70-an hanya terdapat 1 LSM lingkungan, dan kini jumlahnya sudah lebih dari 30.000 buah. Rupanya, makin banyak orang ingin melakukan jenis pekerjaan ini.
Terjadinya perubahan dalam sektor masyarakat madani dapat diakui berkat kerja keras Drayton. Hidupnya didedikasikan bukan hanya untuk mengembangkan Ashoka saja, melainkan termasuk sektor untuk masyarakat madani.
“Bill adalah seorang pionir, dia sudah membangun fondasi bagi kita semua,” komentar J Gregory Dees, profesor dari Fuqua School of Bisnis, Duke University.
Dalam banyak hal, hidup Drayton mengarah pada perjalanan panjang proses pembelajaran cara mengubah sistem. Di Harvard dia membentuk “Meja Ashoka”, di mana para pelajar dapat bertanya pada pemerintah dan pelaku industri soal bagaimana sebetulnya dunia ini bekerja.
Setelah lulus dari Oxford dan Yale Law School, saat bekerja di McKinsey & Co, Drayton belajar tentang kebijakan publik dan perindustrian. Saat memberi konsultasi kepada pemerintah Kota New York, dia bahkan menciptakan pajak pertama di Amerika untuk nikotin dan tar. (mira/wheny)
Dimuat di Sinar Harapan, 5 Juni 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar