Senin, 11 Agustus 2008

Dynand

Pria Kota Kecil yang Bermimpi Besar

Oleh: Wheny Hari Muljati


Sosok ini kelihatannya biasa-biasa saja. Sekilas penampilannya seperti pria-pria di dunia mode pada umumnya, stylish, asyik diajak mengobrol, dan suka bicara soal gaya. Siapa sangka, dalam diri pria berkulit sawo matang ini ternyata juga tersimpan suatu daya luar biasa.


Perarakan spektakuler itu dipenuhi remaja dan pemuda dengan kostum penuh warna, berbagai aksesoris mencolok, dan topi-topi artistik beraneka rupa. Turis dari dalam dan luar negeri tak henti menjepretkan kameranya dan merekam ajang tahunan Kota Jember yang telah menginjak tahun kelimanya itu. Tak kurang dari enam media besar dunia rutin meliput parade akbar itu, mulai dari Reuters, AP, bahkan AFP dan juga EPA.

Siapa sangka, sosok di balik hajatan besar di kota kecil yang letaknya nyaris di ujung timur Pulau Jawa itu, adalah pria biasa dari Desa Garahan, Silo, Jember. Pria yang tampaknya juga tak pelit menunjukkan senyum ramahnya ini adalah Dynand Fariz.

Dynand, yang kurang lebih tiga dasa warsa sebelumnya adalah sesosok remaja yang sedang asyik berkutat mencari identitas dirinya, begitu menginjak dewasa memiliki kerinduan mengentaskan masyarakat di kota kecilnya dari ketertinggalannya dibanding kota lain.

“Nama Kota Jember sebelumnya kurang berbicara di kancah nasional,” ujar Dynand mengenang. Bahkan seingatnya tak ada satu pelajar Jember pun yang lolos di pemilihan paskibraka tingkat nasional. Kondisi itulah awalnya yang mendorongnya berkarya bagi kota kelahirannya itu. Ia ingin Jember dikenal dunia luar, baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Dynand lantas mulai membangun mimpi untuk kota kecilnya itu. Mimpi itu rupanya semakin kuat manakala ia melihat minimnya sarana dan prasarana pendidikan di kotanya bagi kalangan muda. Hati Dynand tergerak manakala dirinya melihat banyaknya anak muda, terlebih dari kalangan tidak mampu yang tidak jelas masa depannya. Mulai saat itulah semakin kuat keinginan Dynan membantu mereka, agar para pemuda dan pemudi di Jember itu memiliki penghidupan yang lebih baik di masa depan.

Dynand, diilhami oleh mimpinya itu, lantas menggagas “Jember Fashion Carnaval” (JFC), suatu karnaval besar yang akan diselenggarakan dan didanai sendiri oleh masyarakat Jember. Gagasan besarnya itu bagi banyak kalangan mustahil dilakukan oleh kota sekecil Jember, di mana kondisi perekonomian sebagian penduduknya kurang baik, bahkan cenderung serbakekurangan. Namun Dynand tetap yakin dengan mimpinya itu. Prinsipnya, jangan takut bermimpi besar, karena sesulit apa pun, mimpi itu tetap bisa jadi kenyataan.

Ia lantas mendekati kalangan muda secara personal. Satu demi satu, kelompok demi kelompok diajaknya bermimpi. Ia tak henti mengajak bicara pemuda pemudi di desanya untuk menyadari keberadaan mereka dan menyemangati mereka agar mau keluar dari kungkungan kemiskinan, keterbatasan, dan ketertinggalan.

“Saya selalu memotivasi mereka agar berani bermimpi besar, karena saya sendiri tidak pernah takut bermimpi besar. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Sesulit apa pun kendalanya, mimpi tetap bisa jadi kenyataan,” ujarnya lagi, untuk menekankan bahwa ia memang meyakini hal itu secara total.

“Tuhan akan membantu setiap orang yang berjuang dengan tulus untuk tujuan yang baik. Kesulitan apa pun akan teratasi, kalaupun keberhasilan tertunda, itu hanya masalah waktu,” ujar lelaki yang matanya selalu tampak berbinar ini dengan penuh keyakinan.

Para remaja desa itu lantas termotivasi oleh ajakan pria yang bertutur kata lembut namun terkesan tegas ini. Mereka dengan tekun mengikuti pelajaran yang diberikan Dynand, baik pelajaran desain, koreografi, kepribadian, bahkan kepemimpinan.

Dynand bahkan tak gentar ketika banyak kalangan memandang negatif gagasan uniknya ini. Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, Dynand, si pencinta segala hal yang berbau hiburan ini tetap tekun mengajar anak-anak muda, bukan saja soal mode, tetapi juga kepribadian. Ia tak jemu memotivasi mereka agar bermimpi besar, seperti berkeliling dunia, bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara, dan sebagainya.

Jember Fashion Carnaval (JFC) ternyata bukan sekadar impian di siang bolong. Gagasan yang telah menjadi impian itu seperti melaju di tangan para pemuda pemudi yang telah disemangatinya. Tahun berikutnya, enam bulan setelah gagasan itu pertama kali muncul, di bulan Januari dan Agustus 2002, Kota Jember yang kecil itu telah menyentak “dunia luar” dengan festival fesyennya yang spektakuler.

Tak tampak lagi pemuda pemudi yang kurang percaya diri. Jejak mereka digantikan langkah-langkah tungkai di fashion run way sepanjang 3,6 kilometer, yang merupakan run way terpanjang di dunia, mengatasi rekor parade di Brasil yang hanya sepanjang 1,1 kilometer.

“Luar biasa. Mukjizat,” kenang Dynand dengan mata berbinar-binar mengingat keberhasilan JFC yang telah berlangsung lima kali berturut-turut dalam empat tahun terakhir dan tahun ini sudah akan menjelang ajang yang keenam kalinya.

Kata-kata itu terdengar bukan sekadar meluncur dengan maksud menyombongkan diri, melainkan karena benar-benar keluar dari rasa syukur karena menurutnya, keberhasilannya itu semata karena campur tangan Tuhan. “Banyak hal mustahil yang terjadi di luar kekuasaan saya, sehingga JFC ini bisa terwujud,” ujar pria kelahiran 23 Mei 1963, yang mengagumi ibu dan kakak tertuanya ini.

Menjelang JFC, berkat binaannya, ratusan pemuda pemudi dari kota kecil itu lantas mendesain baju, topi, dan aksesoris mereka sendiri sesuai tema yang mereka sepakati. Bahkan mereka berlatih koreografi, menyanyi, menjadi presenter, dan juga berlatih menjadi instruktur sebelum akhirnya tumpah di jalanan, melenggak-lenggok bak model di fashion run away.

Prinsip yang ditanamkan Dynand yang akrab dipanggil Mas Fariz ini pada para anak didiknya itu adalah, tak membiarkan pandangan khalayak sedetik pun beralih dari atraksi yang mereka pertunjukan.

“Hitungannya, per detik penonton harus terpikat. Jangan beri kesempatan mereka bosan,” ujar Dynand mengulang apa yang sering dikatakannya kepada anak asuhannya.

Siapa sangka, ratusan pemuda pemudi dan remaja dengan wajah dan tubuh yang penuh lukisan atraktif, serta kostum dan aksesoris itu mendesain semuanya sendiri. Dan siapa sangka, di balik langkah sempurna dan penuh percaya diri para “catwalker” Kota Jember yang mulai sering menghadiri undangan festival dari kota lain itu, ada sosok rendah hati, biasa, namun yang berani bermimpi besar, yakni Dynand.

Mimpi Dynand dan pemuda pemudi Kota Jember itu memang telah menjadi kenyataan. Namun Dynand belumlah berhenti, ia masih mengajak kotanya bermimpi, menjadikan Jember sebagai Carnival City, yakni kota yang memenuhi persyaratan kota festival tingkat dunia.

“Pertunjukan kami selalu eksklusif dan total,” ujar Dynand Fariz, sang motivator sambil menunjukkan foto-foto dan brosur-brosur JFC. Parade fesyen yang foto-fotonya dapat kita lihat di situs www.jemberfashioncarnaval ini mengandung daya magnit yang tak kalah menarik dengan karnaval tingkat dunia seperti di Pasadena, Venesia, ataupun Rio de Janero, Brasil. Bahkan JFC telah memecahkan rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). “Tidak ada mimpi yang tak bisa jadi kenyataan, jangan takut bermimpi besar dan tularkan mimpi itu untuk kebaikan bersama,” pesan Mas Fariz alias Dynand dengan senyum bijaknya.


Sumber: Sinar Harapan 19 Juni 2007.

Tidak ada komentar: