Jumat, 15 Agustus 2008

Santoso

Santoso, sang Peretas Kebebasan Informasi


Pada sekitar tahun 1987-an sampai-1989-an, Santoso (42) adalah salah satu mahasiswa yang memperjuangkan nasib para petani Cimacan yang tergusur. Satu dekade kemudian, di tahun 1999, ia memulai perjuangan baru, merintis kantor berita independen yang kini tengah berkembang pesat, bahkan hingga mancanegara.


Selama permerintahan Orde Baru, akses informasi kepada masyarakat melalui media radio dibatasi pemerintah hanya melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Bertahun-tahun radio tak boleh memproduksi berita sendiri. Mereka hanya diwajibkan merelai berita dari radio pemerintah hampir tiap jam dalam sehari.


Santoso, lantas tergerak memikirkan cara agar masyarakat dapat mengakses informasi yang berkualitas secara bebas. Tujuannya antara lain agar masyarakat mendapat informasi yang benar dan bebas dari manipulasi pihak-pihak yang berkuasa. Dengan demikian masyarakat dapat bertindak berdasarkan pikiran yang jernih, dilatari informasi yang benar dan akurat.


Pada selembar kertas bekas amplop yang dilebarkannya, tujuh tahun lalu tepatnya di penghujung 1998, Santoso menulis konsep pertama idenya tentang mekanisme penyebaran suatu berita. Ide jaringan kerja pertama yang dituangkannya dalam coretan-coretan kasar itu lantas didiskusikannya dengan enam reporter yang baru direkrutnya. Diskusi yang mereka lakukan di Kedai Tempo Utan Kayu itu lantas menelurkan nama “68H”, yang mereka ambil dari lokasi studio kecil mereka, di Jalan Utan Kayu 68 H Jakarta. Maka jadilah Kantor Berita Radio 68H (KBR 68H).


Jaringan kantor berita yang dirintis Santoso itu kini menggurita di tingkat lokal bahkan hingga ke mancanegara. Sebanyak 503 stasiun radio lokal dan mancanegara merelai siarannya. Ini berarti ada lebih dari 13 juta pasang telinga mendengar beritanya yang berkualitas dan akurat.


Saat wawancara di Kedai Tempo di area Komunitas Utan Kayu, Jumat 22 Juni 2007, Santoso yang tampil sederhana dengan kaos putihnya menyambut SH dengan tawa akrab. Ia menenteng buku-buku yang diterbitkan KBR 68H, selain buku yang ditulisnya sendiri tentang jejak langkah KBR 68H yang kini tengah berkembang pesat. KBR yang berawal dari ide sederhananya itu kini telah menjadi industri penyiaran, yang memiliki jaringan bukan hanya menjangkau daerah-daerah terpencil di Indonesia, melainkan hingga ke tingkat Asia dan dunia.


Misi pokok kantor berita ini adalah menyediakan informasi kepada masyarakat. “Masyarakat yang mendapatkan cukup informasi akan bisa memutuskan persoalan-persoalan dengan lebih matang,” ujar ayah dari Ivan Rangga Pratama (11) ini sambil memperlihatkan foto-foto kegiatan KBR 68H merintis pembangunan stasiun radio di Yahukimo, Irian Jaya.


Santoso berhasil mengembangkan industri radio berita independen yang memungkinkan terdistribusinya informasi secara bebas ke seluruh penjuru Indonesia. KBR 68H secara aktif juga membantu perintisan radio-radio di daerah terpencil, antara lain di Bintuni, Manokwari, Tual, dan Seram, selain di Yahukimo dan Paniai.


Pembangunan stasiun radio di daerah terpencil seringkali juga berarti membangun infrastruktur dan membangun sumber tenaga listrik untuk pemancar. Pada saat membangun stasiun radio Yahukimo contohnya, Santoso yang memiliki hobi naik gunung ini, sempat berkonsultasi kepada Tri Mumpuni dan juga perusahaan energi alternatif di Sentani untuk membangun listrik tenaga matahari.


Kantor berita yang dirintis lelaki kelahiran 3 November 1964 ini juga berperan membantu membangun kembali stasiun-stasiun radio yang rusak akibat bencana, antara lain di wilayah Aceh, yang hampir seluruh stasiun radionya telah diporandakan tsunami.


Inovasi

Yang dikembangkan Santosa bukan sekadar stasiun radio, melainkan kantor berita yang memproduksi program-program dan disiarkan oleh anggota jaringan radio.


Kantor Berita Radio 68H telah mampu mengubah pola layanan stasiun radio lokal kepada pendengarnya. Awalnya hampir tidak ada stasiun radio yang memproduksi program berita. Santoso telah mampu meyakinkan stasiun radio hiburan untuk mau terlibat dan turut membangun jaringan radio jurnalistik. Bersama-sama mereka mengembangkan program-program berkualitas yang mampu menjawab minat dan kebutuhan para pendengar, selain juga turut membangun sektor suplai jurnalis radio profesional yang baru.


“Mula-mula penyebaran informasi KBR 68H dilakukan melalui internet, tapi ini mahal dan lambat. Lantas kami menyewa satelit PSN, dan sekarang Satelindo.” Ujar suami dari Wiwin Rubay yang juga memiliki hobi berkebun.


“Pada 1999, KBR 68H awalnya direlai tujuh radio di Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar,” ujar Santoso yang dari semula berkeinginan membangun sebuah jaringan radio publik yang dapat menjadi “pendamping proses demokratisasi” di Indonesia.


“Tujuan utama saya adalah melayani masyarakat, KBR 68H hanya fasilitas saja,”


Keberadaan kantor berita independen ini merupakan ide murninya, namun Santoso tak memungkiri adanya kantor berita di luar negeri yang melakukan hal yang mirip dengan apa yang dilakukan KBR 68H, antara lain Kantor Berita Nasional Public America (NPR) yang memiliki jaringan ratusan stasiun radio, juga ARN di Inggris, dan Pulsar di Amerika Latin.


Tantangan

Membangun kantor berita independen yang selama ini “ditabukan” pemerintah merupakan keasyikan tersendiri bagi Santoso, sehingga ia merasa enjoy apa pun tantangannya. Jurnalis yang sebenarnya bercita-cita menjadi insinyur ini mengaku tantangan saat merintis kantor berita ini lebih kepada soal teknologi dan resistensi pihak-pihak tertentu dalam menyikapi ide KBR 68H.

“Tantangannya ialah bagaimana cara membuat delivery program secara cepat, menyikapi perubahan, dan mempertahankan keberlanjutan program berita agar dapat diakomodasi pasar,”


Harapan

Santoso belum merasa cukup dengan KBR 68H. Menurutnya perlu ada media lain. Oleh karena itu KBR 68H juga mengupayakan mengemas acara radio dalam program televisi, dan merintis kerja sama dengan beberapa stasiun televisi nasional dan mancanegara. Santoso juga berharap siarannya semakin mendunia.


Lelaki bernama samaranTosca ini merupakan orang yang paling dicari pemerintah di era Orde Baru. Ia aktif memperjuangkan kebebasan pers melalui gerakan bawah tanah dengan mengelola penerbitan tanpa SIUP, Independen, yang menjadi lambang perlawanan terhadap pemerintah masa itu.


Lelaki yang pernah mengamen di kereta dan aktif di LBH Ampera (1989) ini turut membantu petani-petani di Cimacan dan Rancamaya yang kala itu tergusur pembangunan lapangan golf. “Saya mau mengembangkan KBR 68H jadi TV di lingkup Asia, termasuk di Singapura, Kamboja, Thailand, dan Filipina. Saat ini KBR 68H sudah bekerja sama dengan 13 radio di Australia; sedang berunding dengan Burma, Pakistan, dan Afganistan; serta telah bekerja sama antara lain dengan radio Jerman, Belanda, Inggris, dan Amerika.


“Saya tidak terlalu aktif di politik. Kalau perlu baru aktif,” ujar anak pertama yang pernah ikut mendirikan PAN 1999 dan Jadi Wakil Sekjen PAN Faisal Basri.

“Saya lebih konsen ke media,”


Santoso telah membawa kepada masyarakat isi berita yang benar-benar berbeda, antara lain dari tingkat lokal ke lintas negara.

Masalah-masalah sensitif seperti toleransi beragama dan pluralisme dapat didiskusikan secara terbuka melalui program interaktifnya.



Dimuat di Sinar Harapan 3 Juli 2007.

Tidak ada komentar: